Trotoarku Malang…
.
Seperti sudah menjadi rutinitas tahunan menggali dan ‘kelupaan’ ngebenerin trotoar.
Yah, selalu ada saja kerjaan menggali trotoar tiap tahunnya. Entah apa aja yang mereka tanam, fiber optic lah, kabellah, inilah, itulah, dll..
Kalo udah ada pekerjaan itu, setidaknya ada beberapa hal yang selalu terjadi:
- Macet
- Becek setelah hujan
- ‘Kelupaan’ ngebenerin trotoar kembali
Hmm.. yang terakhirlah yang paling menjengkelkan. Mereka seperti lupa memperbaiki trotoar seperti semula. Akibatnya trotoar tersebut menjadi nggak enak diliahat dan risih digunakan. Debu dikala kering, becek setelah hujan. Yang paling parah adalah pejalan kaki menjadi enggan melewatinya, dan trotoar tersebut menjadi seperti sampah.
Kejadian ini terus menerus berulang dari waktu ke waktu… Renatasa ingin menganalisa kenapa sih hal ini terjadi?
- Karena kecapaian, jadi kontraktor (pura-pura) lupa memperbaikinya
- Kontraktor tidak memperbaiki seperti sediakala demi untuk kemudahan kalo ada penggalian selanjutnya (irit biaya, dan untung sama untung)
- Karena tradisi di Indonesia adalah membagi-bagi uang projek di awal, jadi Kontraktor kelupaan menghitung biaya yang diperlukan untuk memperbaiki trotoar
Menurut rena, itulah yang terjadi… ![]()
Trotoar (yang catatannya lebih sering digunakan orang menengah ke bawah) selalu saja menjadi korban kebiadaban orang2x yang (sok) beradab. Sigh…
Akankah ini terus terjadi?
Mungkin kah orang2x yang (sok) beradab itu sadar arti pentingnya memperbaiki trotoar seperti sedia kala?
Jangan biarkan trotoar itu menangis!
salam,
renatasa

